君の知らない物語

Open Your Mind to A New World

Hutan Magrove

November4

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki sekitar 17.500 pulau dengan panjang pantai sekitar 81.000 km, sehingga negara kita memiliki potensi sumber daya wilayah pesisir laut yang besar. Ekosistem pesisir laut merupakan sumber daya alam yang produktif sebagai penyedia energi bagi kehidupan komunitas di dalamnya. Selain itu ekosistem pesisir dan laut mempunyai potensi sebagai sumber bahan pangan, pertambangan dan mineral, energi, kawasan rekreasi dan pariwista. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem pesisir dan laut merupakan aset yang tak ternilai harganya di masa yang akan datang. Ekosistem pesisir dan laut meliputi estuaria, hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, ekosistem pantai dan ekosistem pulau-pulau kecil. Komponen-komponen yang menyusun ekosistem pesisir dan laut tersebut perlu dijaga dan dilestarikan karena menyimpan sumber keanekaragaman hayati dan plasma nutfah. Salah satu komponen ekosistem pesisir dan laut adalah hutan mangrove.

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut dan tergolong dalam ekosistem peralihan atau dengan kata lain berada di tempat perpaduan antara habitat pantai dan habitat darat yang keduanya bersatu di tumbuhan tersebut. Hutan mangrove juga berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.

Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Pada hutan mangrove: tanah, air, flora dan fauna hidup saling memberi dan menerima serta menciptakan suatu siklus ekosistem tersendiri. Hutan mangrove memberikan masukan unsur hara terhadap ekosistem air, menyediakan tempat berlindung dan tempat asuhan bagi anak-anak ikan, tempat kawin/pemijahan, dan lain-lain. Sumber makanan utama bagi organisme air di daerah mangrove adalah dalam bentuk partikel bahan organik (detritus) yang dihasilkan dari dekomposisi serasah mangrove (seperti daun, ranting dan bunga).

Hutan mangrove mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon yang selalu berdaun. Keadaan lingkungan di mana hutan mangrove tumbuh, mempunyai faktor-faktor yang ekstrim seperti salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus menerus. Meskipun mangrove toleran terhadap tanah bergaram (halophytes), namun mangrove lebih bersifat facultative daripada bersifat obligative karena dapat tumbuh dengan baik di air tawar. Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia adalah sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit.

Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang banyak ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicennia sp), bakau (Rhizophora sp), tancang (Bruguiera sp), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp), merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai. Jenis-jenis mangrove tersebut adalah kelompok mangrove yang menangkap, menahan endapan dan menstabilkan tanah habitatnya. Fauna mangrove hampir mewakili semua phylum, meliputi protozoa sederhana sampai burung, reptilia dan mamalia.  Secara garis besar fauna mangrove dapat dibedakan atas fauna darat (terrestrial), fauna air tawar dan fauna laut.  Fauna darat, misalnya kera ekor panjang (Macaca spp.), Biawak (Varanus salvator), berbagai jenis burung, dan lain-lain.  Sedangkan fauna laut didominasi oleh Mollusca dan Crustaceae.  Golongan Mollusca umunya didominasi oleh Gastropoda, sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh Bracyura.

Ciri-ciri Hutan Mangrove

Hutan mangrove memiliki ciri-ciri fisik yang unik di banding tanaman lain. Hutan mangrove mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon yang selalu berdaun. Keadaan lingkungan di mana hutan mangrove tumbuh, mempunyai faktor-faktor yang ekstrim seperti salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus menerus. Meskipun mangrove toleran terhadap tanah bergaram (halophytes), namun mangrove lebih bersifat facultative daripada bersifat obligative karena dapat tumbuh dengan baik di air tawar.

Hal ini terlihat pada jenis Bruguiera sexangula, Bruguiera gymnorrhiza, dan Sonneratia caseolaris yang tumbuh, berbuah dan berkecambah di Kebun Raya Bogor dan hadirnya mangrove di sepanjang tepian sungai Kapuas, sampai ke pedalaman sejauh lebih 200 km, di Kalimantan Barat. Mangrove juga berbeda dari hutan darat, dalam hal ini jenis-jenis mangrove tertentu tumbuh menggerombol di tempat yang sangat luas. Disamping Rhizophora spp., jenis penyusun utama mangrove lainnya dapat tumbuh secara “coppice”. Asosiasi hutan mangrove selain terdiri dari sejumlah jenis yang toleran terhadap air asin dan lingkungan lumpur, bahkan juga dapat berasosiasi dengan hutan air payau di bagian hulunya yang hampir seluruhnya terdiri atas tegakan nipah Nypa fruticans.

Ciri-ciri ekosistem mangrove terpenting dari penampakan hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah :

  • memiliki jenis pohon yang relatif sedikit;
  • memiliki akar tidak beraturan (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada pidada Sonneratia spp. dan pada api-api Avicennia spp.;
  • memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora;
  • memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon.

Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus ekosistem mangrove, diantaranya adalah :

  • tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama;
  • tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat;
  • daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat;
  • airnya berkadar garam (bersalinitas) payau hingga asin.

Kuliah Umum 28 Oktober 2016

November4

28 Oktober 2016, 28 Oktober selalu identik dengan semangat sumpah pemuda; iya, sumpah para pemuda indonesia waktu akan mencapai kemerdekaan. Semoga para pemuda indonesia sekarang diberikan kekuatan dan ketabahan untuk paling tidak memahami semangat sumpah pemuda. Semangat pemuda semangat juga kuliahnya, seharusnya. Mata kuliah fitogeografi bimbingan bapak Atus Syahbudin selalu diisi dengan hal-hal menarik mulai dari pengantar kuliah yang tanpa sadar saking menikmatinya sampai jam berlalu begitu cepat.

Dengan mendatangkan dosen tamu dari Filipina dan Amerika Bapak Atus mengajarkan mahasiswanya untuk bersifat open mind terhadap keilmuan dari luar negeri dan memberikan kesempatan untuk belajar secara langsung dari para dosen tamu. Namun metode layaknya seminar ini saya merasa kurang nyaman karena  saya lebih menyukai metode FGD yang jelas lebih efektif, namun karena jumlah populasi mahasiswa dikelas yang terlalu banyak akhirnya metode pembelajaran dengan slide presentasi yang dianggap paling efektif. Dosen forest manegemnt mengajar materi dendrologi bagaimana jadinya ? awalnya biasa saja namun kelaman saya menikmati materi mulai dari english-philipine accent yang mudah untuk dipahami serta tampilan dari slide yang tidak membosankan.

Rasa ingin bertanya pada narasumber pastilah muncul dari pikiran-pikiran mahasiswa baru ini. Namun kebanyakan akan takut mengutarakannya karena masalah grammar, pertanyaan konyol atau apalah alasan sepele lain. Penulis merupakan salah satu orang yang kurang beruntung untuk bisa mengajukan pertanyaan. Bukan karena takut atau malu, tetapi karena sudah merasa lapar dari mulai awal pelajaran dimulai. Padahal penulis sudah gatel ingin bertanya langsung pada Mr. James mengenai konservasi. Eh, sampai lupa perkenalkan nama dosen tamu tersebut adalah Mr. Thomas dari philiphine dan Mr. James dari Amerika. Singkat cerita jam pelajaran fitogeografipun berakhir dan penulias keluar hanya dengan membawa ilmu saja tanpa bisa menambat rasa penasaran mengenai topik yang ingin ditanyakan (W. Sadewo)

Fitogeografi Pathway

November4

Saat dosen fitogeografi mengajukan pertanyaan tentang bagaimana mahasiswanya memahami ciri lapangan dan cara menghapalkan nama ilmiah tentunya setiap orang memiliki cara mereka masing-masing. Mulai dari jawaban omong kosong yang sebenarnya hanya dilakuhkan saat akan ada responsi atau bahkan jawaban “wow” yang tidak terpikirkan akan keluar. Memahami ciri lapangan merupakan hal yang penting bagi seorang rimbawan ketika dia sudah harus sitas di hutan untuk pengumpulan data maupun pemetaan. Bersamaan dengan memahami ciri lpangan seorang rimbawan juga harus hapal nama ilmiah dari pohon yang akan diamati. Susahnya menghapal nama ilmiah ini mungkin sebanding dengan menghapal isi kamus filsafat bagi mahasiswa jurusan statistika.

Penulis sendiri masih kesulitan karena masih mahasiswa semester awal dan harus menghapal minimal 71 nama ilmiah pohon, nama lokal, famili, dan ciri lapangan dari pohon-pohon tersebut. Lalu bagaimana penulis yang umurnya sudah sekian secara bertahap menghapalnya ?. Sebenarnya bukan menghapalkan namun lebih tepatnya memahami. Langkah awal dan paling awal kita harus paham mengenai ciri lapangan seperti jenis daun, permukaan batang, struktur cabang, arah percabangan dan jelas bentuk tajuk pohon. Hal ini penting untuk identifikasi jenis pohon maupun tegakan yang kita amati. Misalkan dari jauh kita dapat mengidentifikasi bentuk tajuknya, namun identifikasi bentuk tajuk cukup sulit. Karena identifikasi ciri lapangan saja dirasakan kurang cukup maka penulis masuk ke tahap kedua yaitu ciri khusus tiap famili yang jelas akan berbeda. Sebagai contoh famili Myrtaceae yang punya aroma daun yang khas jika diremas, diremas, remas, remas, remas.

Pilihan ketiga ini merupakan cara konvensional dan paling konyol karena kita harus menghapalkan satu persatu nama ilmiah dan ciri-ciri spesies setelah dikelompokan menjadi satu famili. Pesan penulis adalah mulailah dari jenis daun, dilanjutkan dengan perbungaan, dan buah. Urutan tersebut adalah yang paling efisien menurut penulis. Memahami ciri lapangan, pengelompokan berdasarkan famili, dan terakhir memahami ciri masing-masing spesies. Langkah terkhir adalah niatkan dan serius menghapalkan, karena percayalah hal ini akan sangat berguna nantinya untuk skripsi penelitian dan pekerjaan lapangan. Cara dari penulis ini cukup simpel dan perlahan sudah penulis lakuhkan meskipun kadang-kadang mendekati jarang penulis hapalkan (W. Sadewo)

23 4 a

Mahasiswa Bukan Rata-Rata

September30

Universitas adalah wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan dirinya, merekalah yang sekarang kita sebut mahasiswa yang notabene merupakan nama yang megah karena tidak semua dapat menyandang nama tersebut. Mahasiswa inilah “yang katanya” calon pemimpin bangsa yang memegang tiga peranan utama dan lima tanggung jawab. Belajar pada level universitas bukan semata-mata soal akademik namun lebih kepada pembentukan sosok pemimpin tersebut yang harus memiliki satu pokok tujuan yang harus dicapai. Nantinya output dari pembelajaran ini adalah kombinasi dari kemampuan akademik dan softskill. Mendasari suatu paradigma di masyarakat bahwa mahasiswa adalah moral agent sekaligus director of change mereka harus mampu membaur dengan masyarakat bawah namun juga harus mampu membawa aspirasi mereka sampai kepada pemimpin mereka. “Aku mahasiswa aku bisa membaur dimanapun aku mau.

Yang menjadi pokok permasalahan sekarang adalah bagaiman kepribadian calon pemimpin kita ini, sosok seperti apa yang kita dambakan ?. Tentu kita semua pernah menonton acara talk show di televisi dan melihat sekumpulan pemuda dengan jas almamater mereka tertawa palsu lalu pulan membawa nasi kotak. Apakah itu calon pemimpin yang dimaksudkan ? namun aktivitas seperti itu tentu juga tidak bisa kita salahkan mengingat itu datang dari kesepakatan mereka “yang penting aku nanti sarjana”. Tentunya masih banyak mahasiswa yang berpondasi kokoh pada tujuan awalnya tersebut dengan kunci utama adalah track record atau sering disebut rekam jejak. Pondasi inilah yang perlahan-lahan mereka bangun dengan start point penting yaitu soft skill. Dari soft skill ini kita bisa mengenal diri pribadi kita untuk menentukan bidang yang akan kita gunakan tempat kita berkarir. Tentunya untuk mengembangkannya kita butuh inovasi-inovasi baru untuk membangun mindset kita. Hal yang tidak kalah penting dalam membangun track record adalah networking, dengan networking kita bisa menjalin hubungan luas yang akan berperan penting dalam membangun karir kedepannya. Kita hidup di abad 21 yang berarti semua akan bermuara pada teknologi. “Minimal loe bisa ngidupin perangkat komputer lah sebagai mahasiswa.”

Mari kita kesampingkan narasi singkat tadi dan melihat implementasi nyata dari mahasiswa yang tentunya bukan masalah KKN yang akan kita bahas disini. Dari golongan intelektual tadi tentu akan terbagi lagi menjadi akademisi dan aktivis namun ternyata setelah lulus menjadi sarjana yang dinantikan apa yang mereka lakuhkan, kebanyakan akan berasumsi kerja kalau tidak ya lanjut gelar magister. Kita disini melupakan satu bidang lagi, yaitu entrepreneur. Wirausaha adalah pelarian mahasiswa yang punya minat di bidang bisnis, lalu apakah mereka adalah anak-anak ekonomika dan bisnis yang katanya berkutat di bidang bisnis. Anggapan anda salah jika mereka semua adalah anak ekonomi, justru sebagian mereka adalah mahasiswa yang mampu melihat peluang bisnis dari disiplin ilmu yang sudah mereka dapatkan di universitas. Setelah mereka membuka usaha tentu kegagalan sudah menanti mereka apalagi bila analisis SWOT mereka kurang matang dan disinilah relasi, inovasi, dan pemikiran kritis mereka akan benar-benar diterapkan karena untuk membangun sebuah usaha dari nol itu butuh komitmen yang kuat.

Membangun sebuah soft skill sama susahnya dengan membangun sebuah usaha apalagi bagi diri mahasiswa sendiri yang harus memperdalam ilmu di bidangnya namun juga harus berkomitmen pada pengembangan pribadinya. Organisasi menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan diri mahasiswa karena dengan ikut aktif dalam organisasi mereka akan mendapat kebanyakan soft skill. Mendapatkan sesuatu pasti juga kehilangan yang lain, mungkin begitulah yang terjadi jika kita menjadi aktivis sekaligus akademisi, bukan tentang apa yang kita dapat namun lebih kepada apa yang kita mampu berikan pada organisasi tersebut. Seiring berjalannya waktu dalam berorganisasi kita akan mencapai suatu titik jenuh yang menciptakan keadaan stagnansi pada pikiran kita. Sama halnya pada organisasi sama juga pada saat kita menjalankan bisnis, titik jenuh ini pasti kita temui karena faktor eksternal dan internal. Dengan melatih diri kita sejak dini kita nantinya akan mampu menghadapi situasi seperti ini.

Kesimpulan dari dongeng penghantar tidur ini adalah sebagai seorang mahasiswa kita harus mampu berkembang mengikuti perkembangan zaman yang menuntut kita untuk berfikir kritis dan terus menumbuhkan inovasi-inovasi baru. Selain belajar mahasiswa harus bisa mengembangkan soft skillnya juga diantaranya melalui organisasi yang akan menjadi ajang latihan kita untuk bisa menjalin relasi dan menemukan langkah yang benar dalam menyikapi masalah. Dari semua yang kita lakuhkan tersebut nantinya ilmu dan pengalaman tersebut akan menjadi suatu track record yang akan membentuk pribadi kita. Terima kasih sudah membaca, quote terakhir adalah “You don’t get what you wish for, you get what you worked on”

Nama : Wawan Sadewo

NIM : 16/398382/KT/08377

Dosen Pembimbing : Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.

PERBEDAAN DAUN TUNGGAL DUDUK BERKARANG DENGAN DAUN MAJEMUK

September23

Di tulis : Wawan Sadewo

NIM : 16/398382/KT/08377

Dosen Pembimbing : Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.

Berbicara mengenai daun biasanya saya mengelompokan daun berdasarkan dua kelompok besar yaitu daun tunggal dan daun majemuk. Saya membedakan daun tunggal dan daun majemuk ini cukup mudah saja, daun tunggal itu satu daun yang memiliki satu tangkai dan bila daun tersebut tumbuh bergerombol menyerupai daun majemuk kita bisa melihat pada ujungnya jika masih ada daun muda yang berbeda dengan yang lainnya maka daun tersebut adalah daun tunggal kemudian dari segi warna daun tunggal biasanya memiliki warna yang kurang sama karena adanya daun-daun baru yang tumbuh. Perhatikan daun Shorea leprosula berikut

Shorea leprosula

Shorea leprosula

Berbeda dengan daun tunggal daun majemuk memiliki keberagaman yang serupa mulai dari bentuk warna dan ukuran karena munculnya daun tersebut secara besamaan. Daun majemuk sendiri nantinya masih akan golongkan lagi menjadi daun majemuk ganda satu, dua, dst.

Daun Majemuk Sambucus javanica

Daun Majemuk Sambucus javanica

Yang menjadi pokok pembahasan kita di posting kali ini adalah bagaimana kita membedakan daun tunggal duduk berkarang dan daun majemuk karena sekilas daun tunggal duduk berkarang ini seperti daun majemuk. Seperti biasanya saya melihatnya dari umur daunnya, daun tunggal biasanya akan berguguran secara bergantian sedangkan daun majemuk hampir pada waktu yang bersamaan. Jadi kita lihat antara daun tunggal duduk berkarang satu dengan yang lain bila ada beberapa daun yang gugur terlebih dahulu maka daun tersebut tunggal dan bentuk duduk daunnya duduk berkarang.

Bentuk duduk daun berkarang tanaman Allamanda cathartica L.

Bentuk duduk daun berkarang tanaman Allamanda cathartica L.

Perbedaan yang lainnya daun tunggal duduk berkarang ini tumbuh pada satu bagian ranting bagian tengah, sedangkan daun majemuk daun kumpulan daun terletak pada bagian ujung-ujung ranting dan terkadang ada bagian pucuk daunnya yang menandakan apakah daun majemuk sempurna atau tidak . Jadi perbedaanya ada pada letak kumpulan daun pada ranting, waktu gugurnya daun dan ada tidaknya daun pada ujung ranting. Mungkin sekian posting kali ini semoga sedikit menambah wawasan pembaca sekalian dan terakhir saya ucapkan arigatou gozaimashu mina. (Wawan Sadewo, 2016)

PERBEDAAN TEPI DAUN BERGERIGI DAN TEPI DAUN BERGIGI

September23

Di tulis : Wawan Sadewo

NIM : 16/398382/KT/08377

Dosen Pembimbing : Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D.

Keaneka ragaman alam adalah hal yang sangat indah untuk kita amati. Namun bila kita melihat dengan jeli pada beberapa jenis pohon kita akan melihat banyak jenis daun yang berbeda-beda bahkan ada beberapa daun yang nampak mirip namun ternyata berbeda. Sebagai contoh kita bisa mengamati kedua daun di bawah ini

Daun Mimba

Daun Mimba

Daun Kitolod

Daun Kitolod

Bentuk dari kedua daun tersebut nampak mirip namun memiliki jenis tepian daun yang berbeda. Untuk daun mimba dapat kita lihat bentuknya adalah tepian daun bergerigi sedangkan untuk daun kitolod cenderung memiliki bentuk bergigi. Untuk perbedaan dari kedua tepian daun tersebut cukup sederhana yaitu pada sudut sinus dan angulus. Untuk daun mimba dia memiliki sudut angulus dan sudut sinus yang sama-sama lancip sedangkan untuk daun kitolod memiliki sudut sinus yang tumpul dan sudut angulus yang lancip, hal ini dapat dilihat dengan jelas pada jarak sudut angulus daun kitolod yang cenderung lebar. Lalu, Apa itu sudut sinus dan angulus pada daun ? Sebenarnya secara mudah kita bisa mengartikan sudut sinus itu sebagai lembah dan sudut angulus sebagai bukitnya. Setelah mengerti perbedaan dari kedua tepian daun tersebut kita kemudian bisa dengan mudah mengelompokan dan mengidentifikasi jenis-jenis tanaman yang kita temui berdasar jenis daunnya dan sebagai pelengkap saya tambahkan beberapa gambar dari tepian daun yang lain.

bentuk tepi daun

Terima kasih kepada pembaca yang sudah membaca posting saya ini dan apabila sekiranya mau menanggapi atau memberi masukan dapat meninggalkan pesan dan komentar pada kolom komentar dibawah. Terima Kasih (Wawan Sadewo, 2016)

Hello world!

August27

Welcome to Wadah Aspirasi, Kreasi dan Catatan Harian Aktivitas Mahasiswa UGM. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!